Perguruan Kristen Methodist 5 Raih Champion pada Wilmar English Battle Championship 2017

400 pelajar tingkat SMA/SMK/MA dari 30 sekolah se-Sumatera Utara bertanding dalan kompetisi Wilmar English Battle Championship 2017: Color Your Talents. Kompetisi EBC yang diselenggarakan Politeknik Wilmar pada 23 dan 24 September 2017 itu diadakan sebagai bentuk kepedulian Politeknik WBI terhadap penguasaan Bahasa Inggris. Ada berbagai cabang yang dilombakan pada kompetisi tersebut, tetapi Methodist 5 pada masa itu hanya berfokus pada Short Drama.

Bapak Marfenas Sihombing (kiri), yang pada masa itu mengajar prakarya dan seni lukis di Methodist 5 melatih 5 orang siswa untuk pertandingan tersebut. Adapun murid yang turut dalam pada gambar di atas adalah Seiko Santana (sebagai Opung), Ezra Anggy Lidya Siregar (sebagai Torkis si penjual lampet), Natalya Priscilla Silaban, Nathalie Fransisca, dan Ramiro Gunady (sebagai Ryan). Naskah asli dituliskan oleh Bapak Marfenas, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan bantuan Ms. Duasi, guru Bahasa Inggris yang mengajar di Methodist 5. Isi naskah menekankan pentingnya menghargai sesama, dan tidak memandang rendah jajanan tradisional ini di antara jajanan tidak sehat.

Kisah Lampet

Naskah drama mengisahkan seorang penjual Lampet (Torkis) yang kewalahan karena dagagannya tidak laku pada hari itu. Saat beristirahat, dua orang pemuda penyuka makanan ringan datang dan mengolok-olok Torkis, si gadis lampet. Torkis menawarkan lampet yang dijualnya itu kepada mereka. Mereka menolak dan menjukkan seperti apa jajanan yang enak itu, tapi kemudian mencoba lampet yang ditawarkan Torkis kepada mereka. Setelah mencobanya, mereka mengakui kenikmatan makanan tradisional ini di dalam hati, namun meneriaki Torkis dan menyatakan bahwa lampet yang dijualnya itu basi, bahkan menjatuhkan dagangan Torkis dan membuatnya berserak. Salah seorang sahabat Torkis kebetulan lewat dan menyaksikan perbuatan buruk kedua pemuda itu. Dia menghampiri dan merapikan barang yang berserakan itu.

Seorang kakek yang menyaksikan kejadian itu akhirnya menghampiri dan mulai angkat bicara. "Lampet has existed since I was young, ...", bercerita betapa lampet adalah makanan lezat dan sehat. Kakek itu sebagai pembawa pesan mengingatkan kita semua untuk saling menghargai tanpa mempedulikan apa status sosial kita dalam lingkungan, dan tidak memandang rendah makanan tradisional yang menjadi budaya juga untuk dilestarikan.

Kedua anak muda itu, setelah mendengarkan perkataan opung, akhirnya menyesal dan meminta maaf pada Torkis atas perlakuan buruk mereka. Saat berjalan, salah satu dari mereka tanpa sengaja menendang tongkat opung menyebabkan opung terjatuh dan mencari kacamatanya, padahal kacamatanya tidak terlepas.

Kisah ini dipandang menarik untuk dibawakan. Ada banyak hal sederhana yang tidak kita perhatikan, mulai dari cara kita memperlakukan orang, hingga makanan tradisional yang lezat namun kurang diperhatikan masyarakat sekarang. Kisah ini ditampilkan sekali lagi pada acara pentas seni, 'Beauty Heritage' yang digelar di Plaza Medan Fair beberapa minggu setelah perlombaan EBC.

Penutup

Kisah tersebut menjadi contoh sederhana yang mungkin dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya percaya bahwa penulis naskah berusaha mengingatkan kita hal-hal sederhana yang tersirat melalui penampilan kisah tersebut. Kisah lampet ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita adalah sebuah kebetulan semata dan tanpa ada unsur kesengajaan.